Ada Apa dengan : Kemasan dengan Isi dan Buku dengan Sampulnya?
Teringat dawuh-nya abah (KH. Agoes
Ali Masyhuri), ketika itu dalam tausiyahnya
terdapat salah satu point yang hingga kini masih melekat baik di hati maupun
pikiran saya. Yakni semakin banyak orang yang ‘lebih mementingkan kemasan dari
pada isinya’. Dalam banyak hal, yang beliau sebutkan salah satunya
ialah jabatan. Jabatan diibaratkan kemasannya atau bungkusnya, sedangkan
pelayanan, amanah dan kejujuran ialah isinya. Dewasa ini tak sedikit dapat kita
temui persoalaan perebutan jabatan, mereka yang mencari jabatan tidak segan
melakukan berbagai cara agar dapat meraih posisi yang diinginkannya. Tanpa lagi
menyadari dengan cara yang seharusnya ataukah tidak, dengan kecurangan ataukah
dengan prestasi. Setelah memperoleh jabatan yang diinginkan, lantas mereka tak
lagi mempedulikan ‘isi’, setelah mendapatkan apa yang ia dapatkan lanta ia akan mengesampingkan
yang menjadi kewajibannya yakni amanah yang harus dilaksanakan, untuk
memberikan yang terbaik dan mengedepankan azaz kejujuran yang semakin sulit kita
lakukan bahkan untuk hal-hal yang sepele dalam kehidupan sehari-hari.
Beralih memperbincangkan jabatan, nurani saya seolah tergelitik dengan
pertanyaan ‘lantas bagimana dengan pasangan hidup’. Mengingat banyak sekali di bulan syawal ini
kerabat maupun sahabat melangsungkan pernikahan. Kira-kira jika dirumuskan
dalam sebuah pertanyaan kurang lebih seperti ini ‘Manakah yang lebih kamu
pentingkan, parasnya atau kepribadiannya?’. Sebagai seorang muslim
kepribadian pastinya tak dapat dipisahkan dengan akhlak. Masih saya ingat betul
ketika abah bertanya pada kami ‘Mana yang
lebih kalian pilih? Bungkus atau isinya?’. Samar-samar kami menjawab ‘isi’, lantas abah berkata ‘itu bukanlah
sebuah jawaban yang cerdas’. Lantas harus bagaimana gumam saya hati, dan kemudian
abah berkata ‘rawat bungkusnya dan nikmati isinya’. Jawaban yang
menakjubkan, sehingga seketika itu juga muncul senyum-senyum simpul dibibir
kami dan anggukan kepala menandakan jika kami sepakat dengan apa yang beliau
katakan. tak akan saya bahas lebih dalam pada postingan kali ini, coba kalian
renungkan terlebih dahulu mengenai apa yang saya sampaikan ini.
Entah mengapa, setelah mendengar tausiyah
abah mengenai bungkus dan isinya, saat perjalanan pulang dari sekolah
terlintas di benak saya akan pepatah lama ‘Don’t judge the book by the cover’. Dalam
menjalin pertemanan, pergaulan, persahabatan pada awalnya pasti kita akan
melihat ‘sampulnya’ terlebih dahulu (meskipun tidak semua orang, namun
saya yakin sebagian besar akan seperti itu). Dua petuah yang saling menguatkan
bukan? Bahwa pada intinya kita tidak boleh tertipu oleh tampilan luarnya saja
akan tetapi pahami terlebih dahulu apa yang ada didalamnya, apapun itu terlebih
untuk hal-hal yang sifatnya penting diantaranya yakni sahabat dan pasangan
hidup tentunya.
Berbicara tentang buku, ada dialog yang terjadi antara hati dengan
pikiran saya. Berbicara tentang seseorang, saya ibaratkan ia sebagai sebuah
buku. Saya tekankan pada diri sendiri agar tidak menghakiminya dari tampilan
luarnya saja, tetapi saya berusaha sekuat yang saya bisa untuk membaca isinya
halaman demi halaman, lembar demi lembar, bab demi bab, berusaha menyabarkan
hati untuk memahami isi dari buku yang sedang saya ‘baca’ ini. Mencoba mengerti
apa yang hendak disampaikan oleh buku tersebut tanpa harus memperotes gaya
bahasanya, tanpa harus menyalahkan penulisnya mengenai alur yang tak saya
sukai, tanpa harus mencaci sang penulis karena menggunakan setting yang tidak sesuai. Karena ia adalah sebuah buku yang telah
diciptakan oleh ’penulisnya’. Yang harus saya lakukan ialah memahami, dan
mempelajarinya hingga pada akhirnya saya tuntaskan buku tersebut. Dan bagian yang
teramat penting dari ‘membaca’ sebuah buku ialah bagaimana
caranya agar saya dapat menjadi seseorang yang paling mengerti, yang
paling paham dari isi buku tersebut. Mengapa? Karena dengan ‘mengerti’
saya dapat menentukan langkah, saya dapat menentukan sebuah tindakan
dengan tepat karena saya sudah paham akan maksud sang penulisnya.
Setelah membaca ulang tulisan di atas, bingung sendiri dengan arah
tulisan dan fokusnya. Tapi tulisan biarlah menjadi tulisan, berharap apa yang
saya tulis sedikit banyak dapat membawa manfaat bagi kita semua.
Teringat dawuh-nya abah (KH. Agoes Ali Masyhuri), ketika itu dalam tausiyahnya terdapat salah satu point yang hingga kini masih melekat baik di hati maupun pikiran saya. Yakni semakin banyak orang yang ‘lebih mementingkan kemasan dari pada isinya’. Dalam banyak hal, yang beliau sebutkan salah satunya ialah jabatan. Jabatan diibaratkan kemasannya atau bungkusnya, sedangkan pelayanan, amanah dan kejujuran ialah isinya. Dewasa ini tak sedikit dapat kita temui persoalaan perebutan jabatan, mereka yang mencari jabatan tidak segan melakukan berbagai cara agar dapat meraih posisi yang diinginkannya. Tanpa lagi menyadari dengan cara yang seharusnya ataukah tidak, dengan kecurangan ataukah dengan prestasi. Setelah memperoleh jabatan yang diinginkan, lantas mereka tak lagi mempedulikan ‘isi’, setelah mendapatkan apa yang ia dapatkan lanta ia akan mengesampingkan yang menjadi kewajibannya yakni amanah yang harus dilaksanakan, untuk memberikan yang terbaik dan mengedepankan azaz kejujuran yang semakin sulit kita lakukan bahkan untuk hal-hal yang sepele dalam kehidupan sehari-hari.

jeruuuuuuuuuuuuuuuu bahasane
BalasHapusHihihihi, sing bagian pundi buuu?
BalasHapus