'Aku dan Ibu kini'
Makam Dukuh Wates – Magersari Sidoarjo
Pernahkah kalian? Bahkan sekali dalam seumur hidupmu?
Membayangkan bagaimanakah jika suatu saat nanti orang yang
amat kita cintai pergi meninggalkan kita?
Kini ...
Pertemuan fisik kami berbeda, cium tangan, peluk hangat,
restu dan rihonya kini dalam wujud yang berbeda.
Ketika akan ada peristiwa penting yang akan saya lalui, beginilah
gantinya.
Saya datang kepusara beliau, mendoakannya, membersihkan batu
nisannya, menyingkirkan rumput liar ditanah merah itu lantas menaburkan bunga.
Dan iniliah bagian yang paling penting,
‘Saya bayangkan ibu berada di hadapan saya, saya bercerita
kepada beliau mengenai apa yang sedang dan akan saya hadapi’
Entah yang mana tawa dan mana yang tangis, bercampur menjadi
satu.
Mendoakannya?
Bukankah bisa dimana saja mendoakan orang yang kita sayangi?
Ya, benar ...
Namun, ketika saya datangi makam ibu.
Saya merasa lebih dekat dengan beliau, seolah-olah hanya
sejengkalan tangan saja kami berhadapan.
Karena di bawah tanah yang sedang saya pijak ketika ziarah,
tekubur jasad ibu disana.
Ada tangan yang dulu ku cium
Ada tubuh yang dulu ku peluk
Ada bibir yang senantiasa mendoakan ku dulu
Ada hati yang tulus ikhlas yang meridhoi setiap langkah ku
Walaupun kini raga itu tak sempurna lagi ...
Ibu, tak banyak yang dapat saya lakukan untuk mu kini.
Hanya doa,
Semoga anakmu bisa menjadi satu amalan yang terputus bagimu
disana
Dan satu janji ku, saya akan terus berusaha untuk berbuat
kebaikan.
Agar engkau dapat tersenyum bahagia disana.
Maaf jika tak banyak yang bisa kulakukan saat engkau masih
ada disisiku dulu.
Semoga ibu senantiasa dalam lindungan-Nya disana.
Aamiin
Dariku, anakmu yang tengah merindu ...

Aq sedihhh sisstt
BalasHapusBahagiakan kedua orang tua kita selagi kita bisa feeee :)
BalasHapusSedih pake bingit, bayaran pertamaku ndak iso nukokne ibu apa apa, sing ape ditukokne wes berpulang ..